Budaya salam,senyum,sapa,sopan,santun,dan spiritual atau lebih dikenal dengan istilah 6S merupakan budaya yang ada didalam lingkungan kampus. Bahkan dibeberapa kampus secara terang-terangan mewajibkan mahasiswanya menerapkan budaya tersebut,salah satu caranya adalah saat masa orientasi mahasiswa baru atau lebih dikenal dengan “Ospek”,bahkan 6s ini dijadikan suatu hal yang “wajib bagi calon mahasiswa baru”,jika mahasiswa baru tidak menerapkan 6s kepada sivitas akademik dan kakak seniornya maka dia akan dikenakan hukuman.
Mengapa
budaya 6S ini menjadi sesuatu yang familiar dibeberapa lingkungan kampus,dan
bahkan familiar juga dilingkungan sekolah maupu perusahaan. Tidak ada yang
salah dengan budaya 6S ini,bahkan budaya tersebut sangat mencerminkan karakter
bangsa indonesia yang selalu salam menyapa ketika saling bertemu,sopan serta
santun. Budaya tersebut juga menjadi salah satu cara untuk menangani kepudaran
moral bangsa indonesia yang sudah mulai jauh dari nilai-nilai pancasila dan
karakter asli bangsa indonesia.
Tapi yang menjadi sorotan dibeberapa
lingkungan kampus adalah dimana budaya 6S ini seolah-olah hanya berlaku wajib
untuk mahasiswa baru atau mahasiswa junior terhadap seniornya,sedangkan
kebanyakan senior enggan untuk berbudaya 6S terhadap juniornya. Padahal kakak
tingkatnyalah yang menyuruh adik tingkatnya untuk berbudaya 6S. Realita seperti
itu sangat nyata ada dalam lingkungan,terutama lingkungan sekolah dan kampus
dimana istilah senioritas sangat mencolok untuk dijadikan alasan mengapa senior
enggan berbudaya 6S terhadap juniornya.
Mungkin banyak alasan mengapa seorang
kakak tingkat tidak mau menyapa lebih dulu,bahkan ketika di sapa lebih dulu dia
bersikap acuh seperti tidak kenal. Alasan yang paling umum adalah rasa gengsi
yang tinggi terhadap adik tingkatnya,seorang yang senior biasanya memiliki rasa
gengsi yang besar terhadap juniornya,banyak yang menganggap jika seorang senior
terlalu ramah terhadap adik tingkatnya dia akan di rendahkan dan takut jika adik
tingkatnya tidak hormat kepadanya. Alasan lain mungkin karena memang orang
tersebut memiliki sifat dan sikap yang berbanding terbalik dengan budaya 6S.
Fenomena budaya 6S ini sangat
unik,dimana seorang senior menekankan kepada juniornya untuk berbudaya 6S akan
tetapi dia sendiri tidak berbudaya 6S. Realita tersebut dapat sebenarnya dapat
mencoreng namanya sendiri bahkan nama akademik dimana akademiklah yang meminta
seorang senior untuk mengajarkan kepada juniornya budaya 6S. Bahkan realita
tersebut dapat menimbulkan perasaan tidak suka seorang junior terhadap
seniornya dan menganggap budaya 6S hanyalah formalitas saat masa orientasi.
Sebenarnya budaya 6S sangatlah penting
untuk diterapkan dimanapun,tidak hanya lingkungan kampus atau sekolah. Yang
terpenting bagi seorang senior sudah seharusnya ketika dia meminta juniornya
untuk berbudaya 6S dia juga harus sudah menerapkan budaya 6S dalam
kehidupannya. Dan bagi seorang junior sudah seharusnya sadar bahwa 6S bukanlah
suatu formalitas yang hanya diterapksan jika diminta,tetapi budaya 6S merupakan
ciri bangsa indonesia. Dan dengan 6S bangsa indonesia bisa mulai menemukan ciri
khasnya kembali.
Sumber foto : GooglePicture
Komentar
Posting Komentar